Minggu, 23 September 2012

Undefinied at this second...





Hidup itu tentang menunggu hujan di balik jendela dan mengukur teduhnya perlahan melalui bidikan kamera yang serba tidak profesional. 
Hidup itu tentang mengerjakan rutinitas yang padat dengan muka pucat, lalu tiba-tiba tersenyum saat mengingat sebuah bayang. 
Hidup itu tentang pilihan untuk bersandar di bahu  seseorang meski di sampingnya terhampar sebuah kasur empuk yang tampak jauh lebih nyaman.
Hidup itu tentang berjalan pada arah yang bersimpangan dengan idealisme saat harus dihadapkan pada sebuah kenyataan. 
Hidup itu tentang konspirasi Tuhan yang membiarkannya berjalan pada terjalan, tanjakan, juga dataran tanpa tahu pasti arah ranjau akan datang. 
Hidup itu tentang tawa kagum pada pelangi yang muncul setelah badan menggigil kebasahan di bawah sebuah atap usang.
Hidup itu tentang berlari mengejar waktu dan terengah karena tak ada tempat yang tersisa dalam sebuah ruang. 
Hidup itu tentang menikmati kesunyian di tengah keramaian. 
Hidup itu tentang menghitung ruas jalan dan mengukur ketinggian untuk mencapai tujuan. 
 
Hidup itu tentang desahan napas gundah di antara dentingan piano dan petikan gitar. 
Hidup itu tentang menggila bersama kawan dan sejenak melupakan jeda dan kesedihan.
  
Hidup itu tentang berpijak di atas sebuah bola sakti raksasa yang berputar.
Hidup itu tentang mengingat hal-hal dimasa lalu dan kemudian menertawakannya.

Hidup itu tentang perjalanan waktu, mengulang detik, menit, jam, hari, tanggal, bulan, dan pergantian tahun.  
Hidup itu tentang memilih menggenggam tangan orang lain padahal manusia diciptakan memiliki sepasang tangan yang bisa saling menggenggam tanpa kehadiran tangan lain.
Hidup itu tentang makhluk bernama manusia yang diberkahi Tuhan dengan akal pikiran namun terkadang lebih memilih untuk menjadi "hilang akal" sejenak

Tapi untuk detik ini bagi saya…

 "Hidup itu tentang ..aku, kamu, kita, impian, senyuman, berbagi, dan persahabatan."


Terimakasih telah menjadi inspirasi sekaligus imaginasi yang sempurna buatku.
Read more...
separador

(Ai – Love) #1



(Ai – Love)

-        -  Memoar tentang sebuah senyuman -

Saya masih ingat siang itu..sekelebat memoar tentang senyumnya yang mampu menyejukkan hari hari penat saya di sepanjang rutinitas yang begitu penat 
Siang yang begitu panas di sudut kota malang
Kuhempaskan tubuh penatku di tepi kasur
Penat,capek,lelah,dan letih berbalut jadi satu dalam adonan panasnya udara malang siang hari itu ditambah lumuran keringat yang mengalir perlahan di balik jilbab yang kusut masai disana sini.

Rutinitas “profesi klinik” di RS ini sungguh membuat penat. Saya benar benar lelah. Betapa waktu begitu cepat..insomnia akibat lembur laporan, standby jam 6 pagi langsung off ke RS..shift pagi yang bener bener ga bisa duduk, responsi laporan, resume pasien, argghhhh.. what a day !!

Pyuuhh,,semua itu terkadang membuat saya ingin terkapar sesaat dan menghilang dari putaran waktu yang terus berlari cepat. 
Selalu ada saat-saat di mana tak ada ruang yang mampu mengalihkan penat, juga ada waktu-waktu..di mana sayup-sayup melodi tak cukup untuk membangkitkan semangat.
Maka di antara kepenatan itu lah saya temukan sebuah bayangan senyum. 
Berlari, melesat, memberi sedikit terpaan angin segar, dan menampar kepenatan jauh pergi.

" Ia ada di sana!! Ia masih di sana !!"

Membuat saya menciptakan senyum kekaguman, menciptakan siluet-siluet harapan, dan membuat saya ingin berteriak sesaat...bahwa 

大好きだ私は彼女を愛してい
これを片思いで終わらせたくない。 
(Kore o kata’omoi de owarasetakunai)
Read more...
separador

(Ai - Love) #2




 Ai-Love 
Ada begitu banyak alasan yang terkadang membuat kita tak ingin jujur.
Ada begitu banyak alasan yang sesaat membuat kita hanya fokus pada sesuatu yang kita jalankan dengan penuh semangad dan energy diri.
Namun tak membutuhkan sedikit pun alasan untuk memahami penyebab sebuah cinta hadir.
 
Dia datang begitu saja tanpa saya minta.
Dia masuk tanpa permisi meski saya tak membukakan sajadah hati saya.
Dan dia melindas sisi-sisi keangkuhan diri saya tanpa banyak kata. Menakjubkan!!
Dia berhasil membuat saya mencintainya dan mengaguminya dari berbagai arah tanpa sanggup saya baca bagaimana etiologi dan pola patofisiologinya. 

“ Hari yang kulalui masih tetap penat dan padat seperti biasa...namun aku tak mengerti mengapa selalu ada segaris senyum untuk menghadapinya”

 大好きだ。
Bukan karena mencintai seseorang kita akan menderita.
Namun, ketika kita mengartikan cinta itu pada sisi kehadiran dan kebersamaan, maka itu lah penderitaan yang tercipta.

Aku telah memutuskan untuk mencintainya. Aku pun telah memutuskan untuk mengagumi sosoknya. Perlu waktu lama untukku belajar, bahwa cintaku juga harus bahagia.
Maka aku akan menciptakan atmosfir kebahagiaan itu seorang diri, tanpa membutuhkan kehadiran orang yang kucintai juga tanpa membutuhkan  balasan perasaan yang sama darinya.
Karena aku pun telah memutuskan...untuk mencintainya dalam diam.
Dan dalam diam itu akan kusampaikan secara perlahan, tiap-tiap gejolak yang kurasakan, melalui hempasan angin, kicauan burung, canda ilalang, , butiran debu, laju awan, butiran hujan, sapaan senja, kerlingan ufuk, dan sentuhan embun [semua akan kukisahkan padanya lewat semesta dengan segala kepasrahan...]

Aneh memang rasanya, ketika harus menulis untuk sesuatu yang tak pernah mampu kutuliskan, kulukiskan, juga kuteriakkan...
Namun catatan ini akan tetap kupersembahkan dalam diam...(seperti cintaku yang juga alpa akan suara..namun terus berpendar di tiap sudutnya)
teruntuk sahabat sahabatku yang juga tengah meredam letupan cintanya..sekali lagi..hanya dalam diam kawan

Tuhan, pendarkanlah selalu cintaku ini dalam diam...sesuai mau Mu


Read more...
separador